Until We Meet Again
Oleh : Nayla Izzati Rizky ( XI APHP 3 )

Yolanda menerima segelas cup americano favoritnya. Menyunggingkan senyum tipis saat barista didepan nya mengucap terimakasih, kemudian berlalu melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi yang tersisa. Gadis itu menyelesaikan tugas pada laptopnya dengan cekatan dan penuh fokus. Saat ia mulai mengoreksi tugasnya tersebut dengan mengscroll nya dari atas kebawah, suara berat dari seorang pria terdengar mengalun lembut ditelinganya.
“Excuse me, i see all the chairs are full, can i sit here?”
Di depannya, seorang laki-laki yang terlihat seusia dengannya. Pengucapan aksen inggris yang kaku, dengan sunggingan senyum yang terbentuk pada bibir peach miliknya.
Yolanda menyapu pandangannya keseluruh kafe, kemudian mengangguk setuju. Mata Yolanda terus tertuju pada pria di hadapannya.
Wajah itu terlihat tidak asing baginya. Mata sipit dengan alisnya yang tegas, rahang yang tajam, dengan bibir tipis nya yang berwarna merah muda. Tanpa sadar Yolanda terus menatapnya, hingga pria di depannya melambaikan tangan di depan wajah Yoland. “Apakah ada sesuatu?” Kalimat yang pria itu lontarkan lebih kaku daripada pelafalan aksen inggrisnya. Yolanda menggelengkan kepalanya.
Laki-laki di depannya kembali memulai percakapan setelah menyalakan iPad abu-abu nya. “Maaf kalau aku menganggumu, I come from Shanghai and am not used to it here, it seems like we are on the same campus,” Arah pandang pria itu melirik sekilas ke arah almamater yang Yolanda kenakan. Tersenyum lebar ke arah Yolanda, membuat kedua matanya menyipit lucu. Gadis itu terpaku, menikmati wajah indah itu sesaat.
Yang tidak terduga, laki-laki bermata sipit ini mengulurkan tangannya alih-alih bersalaman,”Aku Juan, Ayo berteman,”
“Oh?”
“Sorry, Orang Indonesia akan bersalaman saat berkenalan bukan?” lagi-lagi dengan pelafalan kaku nya. Yolanda tersenyum tipis, kemudian menerima uluran tangan pria bernama Juan tersebut.
“Im Yolanda, It’s okay to just call Yoland,” Ujar gadis itu lalu kembali melepas jabatan tangannya. “So, I’ll get back to finishing my work, okay,”
“ah okay ,” tutup Juan dengan gerak tangan mempersilahkan.
~~~
Yolanda melangkahkan kaki keluar dari Taksi yang ia tumpangi, dengan memeluk persembahan berisi buah yang ia bawa. Dress selutut dengan motif bunga sakura dibalut cardigan rajut berwarna merah maroon, juga totebag bertuliskan sepotong kata mandarin tersampir di bahu kanannya.
Gadis itu menyapu pandangannya keseluruh kuil yang mulai ramai. Menghirup udara segar yang melegakan pernafasannya di pagi yang cerah ini. Yolanda terlihat anggun dengan half ponytail pada rambut hitamnya yang panjang.
Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kuil, ikut berbaris pada antrean yang hanya beberapa. Melihat anak kecil yang merengek sembari menarik ibunya meminta untuk pulang, sedangkan kedua orangtuanya itu masih berada pada antrean didepannya. Si sulung kemudian mengajak adik kecilnya
pergi keluar agar tidak menangis. Yang lebih kecil langsung mengelap air matanya dan mengikuti kakaknya untuk bermain diluar latar ibadah. Yolanda tersenyum, teringat bagaimana dirinya saat kecil selalu merengek saat ibadah, meminta pulang dengan alasan tidak betah.
Atensi nya teralihkan saat tubuh tinggi berdiri ikut mengantre disebelahnya. Yolanda hendak menegurnya. Namun gadis itu mengurungkan niatnya, saat sosok wajah yang dikenalinya terlihat saat ia mendongakan kepala. Tinggi Yoland yang hanya sebatas leher, membuat Juan menyadari bahwa gadis disebelahnya ini sangat mungil ketika ia melihatnya dari sudut pandangan.
Yolanda Mendapati persembahan buah pada tangan Juan, ukuran yang sama dengan persembahan miliknya, namun terlihat lebih kecil saat Juan yang membawanya.
“Ayo lakukan bersama,” Juan mengukir senyumnya. Yoland membalas senyuman itu kemudian mengangguk mengiyakan.
Juan mengambil beberapa dupa untuk mereka berdua sesaat setelah meletakkan persembahan yang dibawa. Cowok itu membakar dupa nya, kemudian menempelkan dupa miliknya yang telah berasap pada potongan lain yang berada di tangkupan tangan Yoland.
Yolanda terus menatap adegan itu. Sekelibat memori terlintas di kepalanya. Menampilkan Juan di depannya dan berganti dengan Kaisar Yong Jian yang menyalakan dupa miliknya. Kembali berganti menjadi wajah Juan yang ia lihat, kemudian Kaisar Yong Jian pada penglihatannya. Begitu seterusnya hingga akhirnya suara Juan membuyarkan lamunannya.
“Yoland, let’s start praying,”
Menangkupkan kedua tangan dengan dupa ditengahnya, lalu mengangkat tangkupan tangan setinggi wajah sembari menutup mata, menundukkkan sedikit kepala dan memulai doa didalam lubuk hatinya. Yoland berharap, ia mendapatkan jawaban tentang mimpi sekelibat jalinan cinta nya dengan Kaisar Yong Jian akhir-akhir ini. Ia terus dihantui perasaan sesak saat runtutan mimpi itu terasa semakin jelas dan bagaikan episode di setiap harinya. Matanya sembab setiap kali Yoland bangun dari tidurnya, rasa rindu pada Kaisar Yong Jian seolah menyelimutinya. Padahal, saat zaman Kaisar Yong Jian bukanlah zaman yang telah Yoland lalui.
Menyelesaikan doa nya, keduanya kemudian berlalu keluar dari latar kuil.
Juan menoleh ke arah Yoland, “Setelah ini apakah kamu ada kegiatan? kalau kamu bebas ayo berjalan-jalan, aku menemukan banyak tempat bagus didaerah sini. Do you want to go with me?” “Nothing, Aku bisa pergi denganmu, Kuai dian,” setuju Yoland.
“Kuai dian,” balas Juan.
Sampai di pintu gerbang kuil, keduanya berhenti. Kemudian bersamaan melangkahkan kaki kirinya keluar kuil, yang dipercaya dapat membawa keberuntungan bagi mereka. Gelak tawa terdengar saat mereka menyadari kesamaan yang terjadi tanpa disengaja.
Mereka berjalan dengan semangat menuju busway yang akan mereka naiki. Saling berbincang dengan riang tentang apa saja yang mereka lalui. Berlari turun dari busway dengan tangan yang saling menggenggam tanpa malu-malu.
Merasakan sudah lama mengenal satu sama lain, dengan perasaan bergejolak bagai rindu yang terobati. Menumbuhkan perasaan lega dari sesak yang selama ini mereka rasakan. Berhenti mencari sesuatu yang tidak dimengerti, seolah telah saling menemukan apa yang dicari oleh masing-masing.
Juan dan Yoland saling mengejar dengan berlarian kecil saat canda mulai muncul di antara keduanya. Perasaan riang menyelimuti lubuk hati mereka berdua. Rasa bahagia yang memuncak bagai di langit kesembilan. Mulai memotret satu sama lain dan merekam setiap momen yang mereka lakukan. Mulai dari potret Yoland dengan bunga camelia yang indah pada selipan telinganya, hingga Juan yang berpose bak akan mencebur ke kolam air mancur.
“Sekarang mari kita mengambil selfie!”
Cowok itu mengangkat kameranya sembari tersenyum manis, lagi-lagi dengan mata nya yang juga ikut tersenyum. “Yi, Er, San,” Juan berseru yang kemudian mereka berdua tersenyum lebar ke arah kamera. Suara jepretan terdengar, berhasil mengabadikan kilas indah yang tidak pernah mereka duga.
3 Months later . . .
Yolanda menggerakkan tangannya dengan lihai, merajut sebuah syal dengan benang wol merah favoritnya. Angin berhembus menerpa rambut panjangnya yang tergerai indah. Suara ombak menyapu indra pendengarannya, menyalurkan perasaan tenang pada jiwanya.
Juan duduk di sebelahnya. Menikmati pemandangan matahari yang mulai menyembunyikan terangnya, menciptakan langit oranye dengan balutan awan-awan tipis disekitarnya.
“Kamu keren, disaat orang-orang dapat membeli syal dengan mudahnya, kamu lebih memilih mengerahkan kemampuanmu untuk membuatnya sendiri,”
Yoland tersenyum tipis saat mendengar ujaran Juan. Tanpa Menghentikan aktivitas merajutnya, Yolanda membalas ucapannya. “Aku melakukannya sebagai hobi. Saat nanti Aku memakainya disana, Aku akan teringat tentang perasaan hangat saat Aku membuatnya. Dan melihat matahari terbenam di pantai adalah hobiku juga. So, why not do both at once?” Yolanda tertawa kecil setelah menyelesaikan kalimatnya. Juan hanya mengangguk-angguk. Merasa sedikit rindu dengan keluarganya di Shanghai.
Teringat bulan depan Yolanda akan terbang ke Amsterdam sebagai perwakilan pertukaran mahasiswa dengan 19 siswa lain di fakultasnya. Ia akan menetap disana selama 2 minggu untuk survei dan bertukar pengalaman untuk kepentingan studi.
Juan diam memandangi kain rajutan yang sedang Yoland buat. Ia bergegas mengeluarkan gantungan kunci yang terlepas dari tasnya. Juan menatap dan meraba kepangan wol merah ditangannya.
Benar-benar sama dengan benang merah yang Yoland gunakan untuk membuat syalnya.
Juan mendapatkan gantungan kunci benang merah itu sejak berangkat dari Shanghai. Ketika Juan melihatnya, ia merasa terikat pada sesuatu. Yang membuatnya sangat yakin untuk memiliki kepangan benang merah yang ia temui pada penjual cindera mata di Shanghai.
Laki-laki itu menyembunyikan wajahnya pada lipatan lutut dan kedua tangannya. Menahan rasa sesak pada dadanya, kepalanya pun mulai terasa pening saat memori itu terus terputar bagai televisi yang rusak. Gejala sakit yang muncul setiap kali ia memimpikan gadis yang tidak dapat ia lihat wajahnya dengan jelas. Bagaimana saat ia merangkai momen sukacita bersama yang Juan pun tidak tahu kapan itu terjadi.
Adegan yang seolah terus berputar pada kepalanya itu semakin jelas terlihat. Saat gadis yang amat dicintainya itu memberontak dari tangan-tangan yang mencengkram nya dengan erat, menangis kencang menyerukan sebuah nama sembari menghadap ke arahnya.
Terakhir, ia mendapati kepalanya di tutup oleh sebuah karung hitam. Kemudian, merasakan samurai tajam menebas lehernya hingga suara dengungan melengking ditelinganya.
Juan membuka matanya, mengelap kedua matanya yang terasa basah. Ia mengambil helaian benang merah yang menjuntai di depan Yoland. Dengan mata yang sembap, Juan melingkarkan ujung benang merah itu pada ibu jari tangan kanannya. Menarik tangan kiri Yoland dengan lembut, mengentikan Yoland dari aktivitasnya. Tatapan kosong dan mata yang sembap, membuat Yoland terheran dengan gelagak aneh Juan. Entahlah, naluri Juan mendorongnya melakukan itu.
Yoland melihat ujung benang merah terlingkar pada jari pria di sampingnya, dan menyaksikan bagaimana tatapan Juan hanya terfokus pada lingkaran benang yang ia buat pada jari kelingkingnya. Juan menatap jalinan benang yang terhubung. Kemudian mendongakan kepalanya, menatap ke arah Yoland.
Dan, bayangan wajah gadis yang selama ini membuatnya merasa sesak, perlahan mulai terlihat jelas di pandangannya. Wajah gadis yang menghantuinya selama ini, seolah terasa nyata. Sosok wanita yang berwajah mirip, dengan pakaian yang berbeda. Wanita itu, sekarang ada didepan matanya.
Membuat air mata Juan kembali meluruh dihadapan Yoland.
“Huan Mayleen,” Suara Juan bergetar. Terus terpaku pada kecantikkan Yoland dihadapannya. “Kamu masih cantik seperti dulu,” entah kenapa kalimat itu mengalun begitu saja dari mulut Juan. Dan tangan kirinya seolah tergerak untuk mengelus kepala Yoland dengan lembut.
Yoland tercekat, perasaan campur aduk menyelimuti lubuk hatinya. Wajah Kaisar Yong Jian kembali muncul yang memanggil dirinya dengan nama Huan Mayleen.
Sebuah cinta terlarang yang terjalin. Ketika zaman kekaisaran saling berebut kekuasaan. Terjadi perpecahan dan perang besar antara daerah yang saling membenci.
Awal ketika Ayah Yong Jian dan Ayah Huan Mayleen sebagai Pemimpin Kekaisaran yang saling bersahabat, menjadi musuh dalam selimut. Peperangan besar tak terelakkan, hingga Kekaisaran Yong berhasil ditaklukkan. Yong Jian menangis kala ayahnya gugur dengan tusukan samurai pada jantungnya. Ia merasa terpuruk, merasa gagal tak dapat melindungi ayahnya.
Setelahnya, Yong Jian menjadi tawanan Kekaisaran Huan. Sebelum Akhirnya ia dibunuh dihadapan Huan Mayleen dan para Prajuritnya. Huan Mayleen memohon-mohon pada ayahnya agar berhenti, namun nihil. Dendam seolah sudah merasuki jiwanya.
Huan Mayleen mengalami sedih yang teramat sangat setelahnya. Pikirannya sudah kalut. Hingga pada suatu tengah malam, diam-diam ia menyelinap menuju tempat latihan memanahnya. Mengambil sebuah anak panah paling tajam yang menjadi favoritnya. Dengan wajah yang bergelinang air mata, Huan Mayleen yakin menusukkan anak panah ke arah jantungnya dengan sekuat tenaga. Saat itu juga ruh nya terasa melayang dengan perasaan sakit yang teramat sangat.
“Yong Jian,” deraian air mata lolos begitu saja membasahi kedua pipi Yoland. “Kau, Yong Jian-“
Juan menatap lamat Yoland dengan mata sembapnya. Kemudian Juan tersenyum, “Shuo Hua Suan Shu,”
Sekilas bayangan kembali muncul di memori Yoland, saat Yong Jian mengikat jari nya dan jari Huan Mayleen dengan ikatan benang merah. Merakit banyak rencana yang terus tersemogakan.
Hingga pada saat Yong Jian berujar, “Suatu saat nanti, Ayo kita menikah,” Kemudian Huan Mayleen mengangguk mantap dengan sumringah.
“Ayo janji,” Huan Mayleen tersenyum lebar saat mengatakannya.
“Tentu, Shuo Hua Suan Shu,” Balas Yong Jian di akhiri dengan usapan lembut pada kepala Huan Mayleen.
Yoland mengangguk sambil terus menatap mata laki-laki dihadapannya, “Shuo Hua Suan Shu, Juan,” Perasaan hangat Yoland rasakan saat Juan mendekap tubuh kecilnya dengan erat. Menyalurkan bermilyar perasaan rindu selama ratusan tahun yang tersampaikan. Menangis dalam pelukan erat satu sama lain, dibawah langit senja yang mulai membiru.
Teori benang merah dalam kepercayaan tertentu berarti, dua orang yang dihubungkan oleh benang merah tak kasat mata ditakdirkan menjadi sepasang kekasih tanpa memperhatikan tempat, waktu, atau keadaan. Mitos tentang belahan jiwa atau pasangan yang telah ditakdirkan.
*Shuo Hua Suan Shu = Mari lakukan seperti yang dijanjikan/{mandarin}



